5 Metode Penggolahan Tambang
Batubara, Nikel, Emas, Mineral
Metode pengolahan tambang kali ini saya memaparkan bagaiman mengolah tambang yang
berkualitas yang mampu memberian ke untungan yang banyak.
1. Pembersihan lahan (land clearing).
Pembersihan lahan ini dilaksanakan
untuk memisahkan pepohonan dari tanah tempat pohon tersebut tumbuh, sehingga
nantinya tidak tercampur dengan tanah subsoilnya. Pepohonan (tidak berbatang
kayu keras) yang dipisahkan ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai humus pada
saat pelaksanaan reklamasi.
Kegiatan pembersihan lahan ini baru dilaksanakan pada lahan yang benar-benar segera akan ditambang. Sedangkan lahan yang belum segera ditambang wajib tetap dipertahankan pepohonan yang tumbuh di lahan tersebut. Hal ini sebagai wujud bahwa perusahaan tambang tetap memperhatikan aspek pengelolaan atau lindungan lingkungan tambang.
2. Pengupasan tanah pucuk (top soil).
Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan
terlebih dulu dan ditempatkan terpisah terhadap batuan penutup (over burden),
agar pada saat pelaksanaan reklamasi dapat dimanfaatkan kembali. Pengupasan top
soil ini dilakukan sampai pada batas lapisan subsoil, yaitu pada kedalaman
dimana telah sampai di lapisan batuan penutup (tidak mengandung unsur hara).
Kegiatan pengupasan tanah pucuk ini terjadi jika lahan yang digali masih berupa rona awal yang asli (belum pernah digali/tambang). Sedangkan untuk lahan yang bekas “peti (penambangan liar)” biasanya lapisan top soil tersebut telah tidak ada, sehingga kegiatan tambang diawali langsung dengan penggalian batuan penutup. Tanah pucuk yang telah terkupas selanjutnya di timbun dan dikumpulkan pada lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah Top Soil Bank. Untuk selanjutnya tanah pucuk yang terkumpul di top soil bank pada saatnya nanti akan dipergunakan sebagai pelapis teratas pada lahan disposal yang telah berakhir dan memasuki tahapan program reklamasi.
Kegiatan pengupasan tanah pucuk ini terjadi jika lahan yang digali masih berupa rona awal yang asli (belum pernah digali/tambang). Sedangkan untuk lahan yang bekas “peti (penambangan liar)” biasanya lapisan top soil tersebut telah tidak ada, sehingga kegiatan tambang diawali langsung dengan penggalian batuan penutup. Tanah pucuk yang telah terkupas selanjutnya di timbun dan dikumpulkan pada lokasi tertentu yang dikenal dengan istilah Top Soil Bank. Untuk selanjutnya tanah pucuk yang terkumpul di top soil bank pada saatnya nanti akan dipergunakan sebagai pelapis teratas pada lahan disposal yang telah berakhir dan memasuki tahapan program reklamasi.
3. Pemompaan air tambang (jika terdapat genangan air di
pit).
Pemompaan air tambang dilakukan
dengan menggunakan mesin pompa Allight dan Caterpillar dengan kapasitas
maksimal masing-masing sekitar 200 lt/dt. Pompa ini tidak setiap saat
digunakan, penggunaannya hanya apabila kondisi tambang cukup terganggu dengan
adanya genangan air dalam jumlah banyak. Air hasil kegiatan pemompaan air
tambang ini disalurkan ke kolam penampungan (settling pond) yang terdiri dari 3
kompartemen, yaitu : Kompartemen pertama, untuk mengendapkan kandungan lumpur
yang ikut larut dalam aliran air tambang yang terpompa. Kompartemen kedua,
untuk penanganan (treatmen) kualitas pH air tambang yang dihasilkan, dimana air
tambang harus ber-pH standard sesuai batasan baku mutu air tambang yang
diijinkan. Kompartemen ketiga, untuk kolam penstabilan air tambang dan titik
penataan kualitas air tambang sebelum air tambang tersebut disalurkan ke
perairan umum atau sungai.
Mengapa air tambang ini harus disalurkan ke settling pond terlebih dulu, untuk selanjutnya baru boleh disalurkan ke perairan umum ? hal ini sebagai upaya pencegahan terjadinya air asam tambang (AAT). AAT adalah air yang berasal dari areal pertambangan yang bersifat asam Jika disposal ini nantinya telah dinyatakan selesai, maka permukaan terasering disposal akan diberi lapisan top soil (diambil dari top soil bank) setebal sekitar 50 ~ 100 centimeter dan permukaan akhir dibentuk kontur landai membentuk bukit/ gunung yang rata (tidak terasering). Sedangkan derajat kemiringan kontur bukit ini sekitar 14 derajat. Hal ini untuk menghindari terfokusnya air limpasan disposal sehingga dapat menimbulkan erosi yang besar (tidak ramah lingkungan).
Mengapa air tambang ini harus disalurkan ke settling pond terlebih dulu, untuk selanjutnya baru boleh disalurkan ke perairan umum ? hal ini sebagai upaya pencegahan terjadinya air asam tambang (AAT). AAT adalah air yang berasal dari areal pertambangan yang bersifat asam Jika disposal ini nantinya telah dinyatakan selesai, maka permukaan terasering disposal akan diberi lapisan top soil (diambil dari top soil bank) setebal sekitar 50 ~ 100 centimeter dan permukaan akhir dibentuk kontur landai membentuk bukit/ gunung yang rata (tidak terasering). Sedangkan derajat kemiringan kontur bukit ini sekitar 14 derajat. Hal ini untuk menghindari terfokusnya air limpasan disposal sehingga dapat menimbulkan erosi yang besar (tidak ramah lingkungan).
4. Penggalian tanah penutup (over burden).
Penggalian batuan penutup (over
burden, disingkat OB) dilakukan pertama kali dengan menggunakan alat gali
berupa alat berat jenis big bulldozer yang berfungsi sebagai alat pemecah
bebatuan (proses ripping dan dozing). Batuan penutup yang telah hancur tersebut
selanjutnya diangkat oleh alat berat jenis excavator dan dipindahkan ke alat
angkut. Sedangkan alat angkut batuan penutup ini berupa dump truck dengan
kapasitas muat/angkut maksimal 20 ton. Dump truck ini beroperasi dari loading point
di front tambang menuju ke areal disposal yang berjarak 4 km (pulang pergi).
Penimbunan batuan penutup di
disposal ini harus dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai dengan membuat
lapisan OB dasar seluas areal disposal (luas maksimal) yang telah ditentukan.
Untuk selanjutnya dilakukan kegiatan penimbunan OB naik ke atas secara bertahap
atau berjenjang dengan luasan semakin mengecil, hingga membentuk sebuah bukit
atau gunung yang berterasering.<br />Jika disposal ini nantinya telah
dinyatakan selesai, maka permukaan terasering disposal akan diberi lapisan top
soil (diambil dari top soil bank) setebal sekitar 50 ~ 100 centimeter dan
permukaan akhir dibentuk kontur landai membentuk bukit/ gunung yang rata (tidak
terasering). Sedangkan derajat kemiringan kontur bukit ini sekitar 14 derajat.
Hal ini untuk menghindari terfokusnya air limpasan disposal sehingga dapat
menimbulkan erosi yang besar (tidak ramah lingkungan).
5. Penambangan batubara (coal cleaning & coal getting ke
ROM).
Setelah penggalian batuan penutup
selesai dan lapisan batubara mulai terekspose, maka kegiatan penambangan
berikutnya adalah proses pembersihan lapisan batubara dari unsure pengotor
(sisa batuan penutup dan/atau parting). Kegiatan ini dikenal dengan istilah
coal cleaning. Hasil kegiatan coal cleaning ini adalah lapisan batubara yang
bersih dan berkualitas.
Proses coal cleaning ini dilakukan oleh alat excavator yang telah dilengkapi dengan cutting blade pada sisi luar kuku bucket. Hal ini menjadikan ujung bucket bukan berupa kuku tajam, melainkan berupa ujung bucket yang datar rata. Unsur pengotor yang berada di atas lapisan batubara dapat dihilangkan hingga sebersih mungkin. Sedangkan proses pemuatan batubara ke alat angkut dilakukan oleh unit excavator, dimana alat angkut yang digunakan yaitu dump truck dengan kapasitas muatan 20 ton. Selanjutnya batubara tersebut diangkut menuju ke stockpile mini tambang (ROM). Hal ini dilakukan agar proses penambangan batubara di front tambang dapat berlangsung lebih cepat, jika dibandingkan dengan pengangkutan batubara secara langsung dari front tambang ke stockpile pelabuhan. Hal ini mengingat jarak antara lokasi front tambang terhadap lokasi stockpile pelabuhan cukup jauh (sekitar 43 kilometer).
Proses coal cleaning ini dilakukan oleh alat excavator yang telah dilengkapi dengan cutting blade pada sisi luar kuku bucket. Hal ini menjadikan ujung bucket bukan berupa kuku tajam, melainkan berupa ujung bucket yang datar rata. Unsur pengotor yang berada di atas lapisan batubara dapat dihilangkan hingga sebersih mungkin. Sedangkan proses pemuatan batubara ke alat angkut dilakukan oleh unit excavator, dimana alat angkut yang digunakan yaitu dump truck dengan kapasitas muatan 20 ton. Selanjutnya batubara tersebut diangkut menuju ke stockpile mini tambang (ROM). Hal ini dilakukan agar proses penambangan batubara di front tambang dapat berlangsung lebih cepat, jika dibandingkan dengan pengangkutan batubara secara langsung dari front tambang ke stockpile pelabuhan. Hal ini mengingat jarak antara lokasi front tambang terhadap lokasi stockpile pelabuhan cukup jauh (sekitar 43 kilometer).
No comments:
Post a Comment